Jumat, 18 Oktober 2013

aku sayang ibu

Aku Sayang Ibu

Kemarin aku juga katakan itu
tapi kata teman itu menjikan
kenapa tanyaku

Bajingan teriaknya

haha.....
coba katakan kalau aku sedang tidur saja
benarkah ibu masih butuh kasih sayang

aku berlajar berbicara

kemarin kukatakan a
jangan kau ulangi katanya
hari ini aku juga bilang b
malas sekali aku mendengar
akhirnya ku bicara kata
jangan-jangan kau mau menjadi penyair

Kenangan Berenang

kenang berenang
berenang kenang
kenang kenang
berenang renang
aku coba berenang
tapi kunang kunang
cobat lagi kukenang
tapi berenang lagi
coba ajari aku berenang
tapi hanya kenang
kenang berenang
berenang kenang

cemburu

aku dan hatiku.

untuk sementara ini mungkin hanya itu.

tapi jika kulihat jeda dan sela,

sepertinya aku memang tak mungkin menyandingmu.

tak apalah,

mungkin dalam kehidupan lain kita bisa sekedar jalan bersama.

yah...kau terlalu memujanya. mencintainya dengan lembut.

dan aku cemburu

dalam selimutku.

senyumku dan gradasi

ada yang bilang aku ada dipanggung,

disorot lampu tajam. silau.

tapi ada yang bilang aku ada di antara penonton,

bersama udara dingin.

bersahaja.

entahlah, aku tak mengurus itu.

karna dalam setiap langkah kaki ternyata aku menari.

karna dalam setiap tutur kalimat ternyata aku bernyanyi.

untuk bergembira dalam hidupku.

untuk mencengkram seutuhnya duniaku.

walau terkadang aku terkena tumpahan air

yang hasilkan senyum berlatar gradasi

debu

sejatinya manusia itu adalah kumpulan segala kepingan

merambat mencoba paham apa yang Tuhan cipta

meraba mencoba tau apa yang Tuhan maksud

sejatinya manusia itu adalah bongkahan palsu yang ingin asli

tak puas pada berkah

tak bersyukur pada keajaiban

ketika lolong mencengkram

ketika bencana tanpa aba-aba

masih saja,

tanpa doa minta ampun

ku angkat topi

genderang tarian suku di bawah bulan purnama hari itu untuk memanggil hujan
ribuan katak disuruh diam
leher mereka diikat dengan tambang
mulut mereka ditutup dengan lempeng baja
dikandangkan dalam sangkar bambu
genderang tarian suku di bawah bulan purnama hari itu untuk memanggil hujan
pemimpin suku telah berhiaskan gambar sabit
pemimpin suku telah menyembur air ludah
pemimpin suku telah kencangkan ikat kepala
pemimpin suku telah bermata merah
genderang tarian suku di bawah bulan purnama hari itu untuk memanggil hujan
lalu
tarian itu mengalir
membawa suara pada titik pusat gelombang lingkaran
memaksa wajah wajah daun menghadap pada api
mengambil sisa cahaya untuk menggandakan lekukan kurban bakaran
genderang tarian suku di bawah bulan purnama hari itu untuk memanggil hujan
sementara
ribuan katak menatap nanar
"tugas itu hak kami, jangan kalian rampas..."
mata hijau yang tak dipenjara itu menangis
warisan leluhur telah diambil oleh manusia dengan ekor kasuari di kepala
titipan leluhur telah dicuri oleh manusia dengan tanduk banteng di kening
genderang tarian suku di bawah bulan purnama hari itu untuk memanggil hujan
dan
ada gemuruh dari selatan
ada kilat dari utara
bulan-bintang tertutup awan tebal,bersembunyi lalu pulang
genderang tarian suku di bawah bulan purnama hari itu untuk memanggil hujan
ketika
kekuatan itu bersatu pada garis digonal dari timur dan barat
bukan hujan yang datang
salah
salah undang
sayang sekali
manusia-manusia itu kedatangan geram
k i a m a t
dunia menggelap!
genderang tarian suku di bawah bulan purnama hari itu untuk memanggil hujan
jangan
biarkan katak lakukan tugasnya
dalam diam kuberhimne
dalam diam kuangkat topi